Harap Tunggu...

» Pulang Pisau » 496. Dilema Fajar dan Bakti Negara: Kisah Hari Pertama Puasa Hakim Rahmatiah di Jalur Palangka Raya-Pulang Pisau
496. Dilema Fajar dan Bakti Negara: Kisah Hari Pertama Puasa Hakim Rahmatiah di Jalur Palangka Raya-Pulang Pisau
  

Dilema Fajar dan Bakti Negara: Kisah Hari Pertama Puasa Hakim Rahmatiah di Jalur Palangka Raya-Pulang Pisau


Pulang Pisau | pa-pulangpisau.go.id

PULANG PISAU – Gema azan Subuh baru saja berlalu di Kota Cantik Palangka Raya, namun bagi Rahmatiah, S.Sy. M.H., ritme hari pertama Ramadhan sudah mencapai puncaknya jauh sebelum matahari terbit. Sebagai seorang Hakim di Pengadilan Agama (PA) Pulang Pisau sekaligus seorang ibu, hari pertama puasa tahun ini menjadi ujian manajemen waktu yang luar biasa.

Pagi itu, rumahnya bukan sekadar tempat menyantap sahur, melainkan “pusat komando” kecil. Rahmatiah harus memastikan kebutuhan gizi keluarganya terpenuhi, sembari membimbing buah hatinya yang juga memulai hari pertama sekolah di tengah suasana puasa.

Antara Seragam Sekolah dan Toga Hakim

Tantangan terberat hari itu bukan hanya menahan lapar, melainkan memastikan sang anak tetap bersemangat berangkat sekolah di hari pertama Ramadhan. Sembari menyiapkan perlengkapan sekolah anak, Rahmatiah sendiri harus bersiap untuk menempuh perjalanan lintas kota.

“Hari pertama puasa selalu punya cerita sendiri. Ada rasa haru melihat anak mulai belajar berpuasa di sekolah, tapi di sisi lain, tanggung jawab di meja hijau Pengadilan Agama Pulang Pisau sudah menanti,” ujar Rahmatiah saat bersiap berangkat.

Membelah Aspal Trans-Kalimantan Sebelum Jam Kantor

Tepat sebelum jarum jam menunjukkan waktu keberangkatan yang krusial, Rahmatiah sudah harus berada di balik kemudi. Perjalanan dari Palangka Raya menuju Pulang Pisau memakan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam melintasi jalur Trans-Kalimantan yang menantang.

Baginya, perjalanan pagi ini adalah bagian dari ibadah. Berangkat lebih awal bukan sekadar mengejar absensi, melainkan bentuk komitmen agar pelayanan publik di PA Pulang Pisau tidak terhambat meski raga sedang beradaptasi dengan pola puasa.

“Perjalanan Palangka Raya ke Pulang Pisau di pagi hari saat puasa itu seperti meditasi. Kita punya waktu untuk berpikir, berzikir, dan menyiapkan mental untuk menyidangkan perkara dengan kepala dingin,” tambahnya.

Integritas Tanpa Alasan

Setibanya di Pengadilan Agama Pulang Pisau, lelah perjalanan seolah luruh saat ia melihat masyarakat pencari keadilan sudah menunggu. Baginya, tugas seorang hakim adalah amanah yang tidak boleh kendor hanya karena alasan fisik yang lemas akibat puasa atau lelah karena perjalanan jauh.

Kisah Rahmatiah adalah cermin dari banyak perempuan karier yang harus menjalankan peran ganda. Antara mengantar anak menuju gerbang sekolah dan mengetuk palu keadilan, semuanya dijalankan dengan satu napas: Keikhlasan.

“C.A.T. (Cepat, Aktual, dan Terpercaya), rm/Timred”