Harap Tunggu...

» Palangka Raya » Sekretaris PTA Palangka Raya Tekankan Transformasi Budaya Kerja: Pilih “Guilt Culture” Ketimbang “Shame Culture”
Sekretaris PTA Palangka Raya Tekankan Transformasi Budaya Kerja: Pilih “Guilt Culture” Ketimbang “Shame Culture”
  

Sekretaris PTA Palangka Raya Tekankan Transformasi Budaya Kerja: Pilih “Guilt Culture” Ketimbang “Shame Culture”

PALANGKA RAYA – Sekretaris Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Palangka Raya, Abdul Rifa’i, S.H.I., M.H., memberikan paparan mendalam mengenai urgensi transformasi mentalitas aparatur sipil negara dalam acara Pembinaan Ketua PTA Palangka Raya yang berlangsung di Pengadilan Agama (PA) Palangka Raya, Jumat (6/3/2026).

Dalam paparannya, Abdul Rifa’i menyoroti dua fenomena sosiologis yang sangat memengaruhi produktivitas dan integritas di lingkungan kerja, yakni Shame Culture (budaya malu) dan Guilt Culture (budaya rasa bersalah).

Memahami Perbedaan Budaya Kerja

Beliau menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada sumber kontrol perilaku pegawai:

  • Shame Culture (Budaya Malu): Pegawai cenderung bekerja baik atau menaati aturan hanya karena takut dipantau atasan atau merasa malu jika ditegur di depan rekan sejawat. “Jika tidak ada yang melihat, integritas berpotensi kendur,” tegasnya.
  • Guilt Culture (Budaya Rasa Bersalah): Pegawai memiliki standar moral internal. Mereka merasa bersalah kepada diri sendiri dan Tuhan jika tidak memberikan pelayanan prima atau melanggar aturan, meski tanpa pengawasan melekat.

“Kita harus bergeser dari sekadar takut ditegur (Shame Culture) menuju kesadaran hati nurani (Guilt Culture). Pegawai yang memiliki Guilt Culture akan merasa berdosa jika memakan gaji tanpa kinerja yang sepadan,” ujar Abdul Rifa’i di hadapan seluruh aparatur PA Palangka Raya.

Pesan bagi Aparatur PA Palangka Raya

Sekretaris PTA Palangka Raya berharap internalisasi Guilt Culture dapat meningkatkan kualitas pembangunan Zona Integritas (ZI) di PA Palangka Raya. Menurutnya, sistem secanggih apa pun tidak akan efektif jika individu di dalamnya tidak memiliki kendali internal yang kuat.

Acara pembinaan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja pimpinan PTA Palangka Raya untuk memastikan kesiapan satuan kerja di bawahnya dalam memberikan pelayanan publik yang transparan dan akuntabel di tahun 2026.