KMA Prof. Sunarto: Kualitas Peradilan Dimulai dari Senyum Petugas PTSP
JAKARTA – Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H., memberikan arahan strategis dalam pembukaan Rapat Koordinasi Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Ditjen Badilag) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (10/3). Di hadapan jajaran pimpinan pengadilan tingkat banding dari seluruh Indonesia, Prof. Sunarto menegaskan bahwa standar keunggulan lembaga peradilan kini telah bergeser ke arah yang lebih holistik.
Melampaui Teks Putusan: Wajah Peradilan di Garis Depan
Dalam sambutannya, Prof. Sunarto menekankan bahwa persepsi publik terhadap keadilan seringkali terbentuk jauh sebelum Hakim mengetukkan palu. Beliau menyoroti peran vital Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) sebagai wajah terdepan Mahkamah Agung.
“Kualitas peradilan tidak lagi hanya diukur dari seberapa hebat pertimbangan hukum dalam sebuah putusan. Masyarakat menilai kita sejak mereka melangkah masuk ke gerbang pengadilan. Keramahan petugas PTSP, kecepatan merespons keluhan, dan kenyamanan layanan adalah indikator nyata dari keadilan yang melayani,” tegas Prof. Sunarto.
Beliau menginstruksikan agar seluruh aparatur di garis depan membuang jauh-jauh sikap birokratis yang kaku dan menggantinya dengan pendekatan humanis. Menurutnya, integritas yang tinggi tanpa dibarengi dengan pelayanan yang prima hanya akan menciptakan jarak antara lembaga peradilan dan pencari keadilan.
Tahun 2026, tantangan dunia peradilan dinilai semakin kompleks. Prof. Sunarto menyebutkan bahwa sinergi antara tenaga teknis yudisial (Hakim dan Panitera) dengan tenaga Kesekretariatan adalah kunci utama performa lembaga.
“Jangan ada lagi dikotomi atau ‘sekat’ antara bagian teknis dan sekretariat. Keduanya adalah dua sayap dari burung yang sama. Jika salah satu lemah, maka institusi ini tidak akan bisa terbang menuju keunggulan yang kita cita-citakan,” tambahnya.

