.... وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

Jamaah Shalat Zuhur, Shooimin wa Shooimat Rahimakumullah.

Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk di dunia ini. Bahkan Ia juga menyatakan bahwa tiada satu binatang melata pun yang tidak dijamin rezeki oleh-Nya. Lalu apakah semua yang kita peroleh dinamakan rezeki? Jawabannya adalah tidak. Karena yang dinamakan rezeki adalah segala sesuatu yang kita peroleh dan dimanfaatkan. Jika tidak dimanfaatkan dalam bahasa agama itu bukanlah dinamakan rezeki, melainkan hanya sebagai hasil usaha. Rezeki tidak hanya berbentuk material, ketenangan bathin adalah rezeki, rumah tangga yang sakinah adalah rezeki, bahkan anak-anak yang sholeh dan mudah diatur adalah rezeki yang tak terhingga nilainya. Lalu bagaimana agar rezeki yang kita peroleh tersebut berkah?

Ada 4 tanda atau cara agar rezeki yang kita peroleh tersebut berkah:

  1. Halal

Alhamdulillah kita diberikan pekerjaan yang baik dan halal. Baik halal untuk memperolehnya dan halal dari wujud rezeki yang kita dapatkan. Setiap bulannya mendapatkan gaji yang lebih dari cukup untuk keperluan kita. Namun dari rezeki yang halal tersebut, terkadang masih ada saja rasa ketidakpuasan dari dalam diri kita. Selalu merasa kurang dan ada keinginan untuk menumpuk harta. Lalu bagaimana kita menyikapi hal tersebut agar rezeki halal yang kita peroleh tetap menjadi rezeki yang berkah?

  1. Bersih

Allah SWT berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا…   (سورة التوبة: 103)

Artinya:

“Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan  dan menyucikan mereka” 

Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kita agar mengeluarkan zakat yang bertujuan agar membersihkan jiwa, hati dan harta kita dari kecintaan yang berlebihan terhadap harta. Dan dengan zakat juga akan menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati untuk mengembangkan harta kita yakni dengan beramal, infaq dan shadaqah. Terlebih lagi di 10 hari terakhir Ramadhan ini (walaupun dari awal Ramadhan sudah diperbolehkan untuk mengeluarkan zakat fitrah) kita diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah sebesar 2,5 kg beras (yang biasanya Kemenag mengeluarkan edaran apabila kadar zakat fitrah beras tersebut diuangkan), dan untuk yang memiliki kelebihan harta dan sudah mencapai nisab dan haulnya juga dianjurkan untuk mengeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.

  1. Manfaat

Allah memberikan kita rezeki, namun bagaimana agar rezeki tersebut berkah? Dalam sebuah kata mutiara Arab disebutkan bahwa:

خَيْرُ مَالِكَ مَانَفَعَكَ

Artinya:

“sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu”.

Allah memberikan kita rezeki, namun bagaimana agar rezeki tersebut tetap menjadi rezeki yang berkah? Kita diberikan rezeki berupa kendaraan, bisa kita gunakan kendaraan tersebut   untuk bekerja, ke masjid, menimba ilmu dan ke tempat-tempat selain yang dilarang Allah SWT.Lalu bagaimana rezeki tersebut masuk kategori yang tidak bermanfaat? Allah memberikan kita mobil, namun hanya terparkir rapi di garasi karena takut kotor dan takut lecet, ibu-ibu membeli puluhan tas dan sepatu hanya dengan tujuan untuk mengoleksi dan terpajang rapi di etalase masing-masing. Perbuatan seperti itulah yang tidak bermanfaat, melainkan mubazir saja. Padahal Allah SWT telah berfirman dalam Surah Al Isra: 27 

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ...

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang pemboros (perbuatan mubazir) itu adalah saudara setan…”

  1. Maslahat

Tanda rezeki yang berkah adalah maslahat, yakni bagaimana caranya agar manfaat dari rezeki tersebut tidak hanya kita yang merasakan, tetapi juga bermanfaat untuk orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, misalnya ketika kita sedang menuju ke masjid dan ada orang yang berjalan kaki, kita ajak mereka untuk bersama-sama menuju masjid menggunakan kendaraan kita atau sebagian dari harta kita digunakan untuk membelikan perlengkapan sholat di Masjid seperti sarung, mukena, maupun sandal untuk berwudhu. Mungkin hal ini terlihat sepele bagi kita, akan tetapi sangat bermanfaat bagi musafir yang singgah ke masjid dan tidak membawa peralatan shalat. Dari tindakan kita tersebut juga secara tidak langsung akan membuat kita menerima pahala secara terus menerus karena merupakan amal jariyah bagi kita asalkan kita lakukan dengan ikhlas.

Kiranya inilah kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga di 10 hari terakhir Ramadhan ini kita selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT sehingga dapat memaksimalkan amal ibadah kita kepada-Nya dan di hari kemenangan nanti kita mampu mendapatkan derajat taqwa di sisi Allah SWT serta berkumpul dengan keluarga tercinta.

Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.